Minggu, 21 Juni 2015

sejarah penduduk asia tenggara


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Asia Tenggara adalah sebuah kawasan di benua Asia bagian tenggara. Kawasan ini mencakup Indochina dan Semenanjung Malaya serta kepulauan di sekitarnyaAsia tenggara memiliki letak yang ditinjau dari berbagai aspek baik itu dari segi astronomis,geografis,politis,ekonomis serta sosial serta keadaan alamnya.
Setiap wilayah selalu menyimpan sesuatu yang menarik dan unik dalam catatan sejarahnya, mempelajarinya membuat kita menjadi sesorang detektif yang siap membuka tabir misteri sehingga terkadang kita keheranan dan mengucap kagum dan berucap kagum. Apa lagi kita sebagai manusia yang tidak bisa lepas dari ingatan massa lalu, dengan mempelajarinya akan memberikan kesadaran dari mana kita berasal dan proses kehidupan seperti apa yang telah nenek moyang kita lalui pada masa silam hingga kita bisa belajar lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan sekarang dan akan datang. Asia tenggara adalah salah satu dari sekian wilayah tersebut yang menyimpan keunikan sendiri.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah keadaan penduduk di asia tenggara?
2.      Faktor apakah yang mempengaruhi adanya migrasi?
3.      Bagaimanakah proses migrasi di asia tenggara?

C.    Tujuan Penulisan
1.         Untuk mengetahui keadaan penduduk di asia tenggara
2.         Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi migrasi
3.         Untuk mengetahui proses migrasi di asia tenggara

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Penduduk Asia Tenggara
Pada sekitar abad ke 18 dan sebelum-sebelumnya , Asia tenggara merupakan daerah yang memiliki penduduk paling jarang di kawasan ASEAN. Namun pada abad ke 19 dan 20 mengalami perubahan yang sangat signifikan. Penduduk menjadi bertambah lebih dari 100%. Perubahan tersebut tentu memiliki berbagai unsur penyebab. Kawasan Asia Tenggara mulanya adalah berupa rawa-rawa dan hutan. Namun saat ini hutan dan rawa-rawa tersebut telah terlihat mengenaskan karena telah dirusak oleh tangan-tangan jahil manusia.
Sekitar dua Abad yang lalu jumlah penduduk di Asia Tenggara sangat jarang, sehingga banyak adanya anjuran-anjuran dari berbagai pihak untuk meningkatkan angka kelahiran. Minimnya informasi dan minimnya teknologi adalah faktor yang paling utama. Sehingga pada waktu itu dena dirasa sudah menemukan kesejahteraanya di daerah pedesaan yang baru di tinggali mereka. Namun hal ini berbeda dengan dua negara ini, yaitu Filipina danMalaysia. Di dua negara tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk yang tinggal di daerah perkotaan sangatlah banyak, bahkan mencapai 50%. Namun di luar itu, penduduk pedesaan juga telah mengalami peningkatan yang sama, sehingga kedudukan dari kemajuannya seimbang. Adanya infrastruktur yang memadai merupakan faktor utama.
Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk adalah besar kecilnya angka kematian dan tingkat kesuburan. Setelah Perang Dunia II berakhir terlihat bahwa angka kematian semakin menurun. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuanpun juga semakin terlihat dengan dibuktikannya ada penemuan antibiotik pada tahun 1940dan 1950-an. Di kawasan-kawasan Asia Tenggara terlihat adanya penurunan kematian bayi yang signifikan yaitu di kawasan Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Myanmar, Vietnam, Laos dan Kamboja.
Pada tahun 1970-an tercatat bahwa angka kelahiran mengalami pelonjakan yang cukup drastis. Masyarakat di seluruh kawasan Asia Tenggara telah mengalami perubahan berfikir untuk lebih menekankan adanya banyaknya jumlah kelahiran.jumlah ini bahkan tercatat lebih tinggi dari Negara-negara Eropa. Negara-negara tersebut antara lain Indonesia, Malaysia, filipina, Muangthai. Dengan adanya kelahiran yang sangat drastis yang meningkat hingga mencapai 28,9% tersebut berdampak buruk bagi kesehatan bayi di masyarakat. Kurangnya asupan gizi bagi bayi adalah faktor utama, sehingga dengan adanya permasalahan inilah mulai timbul adanya transmigrasi.
Peningkatan angka kelahiran tersebut juga di pengaruhi adanya faktor pernikahan usia muda. Usia muda para wanita tersebut merupakan masa-masa kesuburan bagi seseorang untuk melahirkan banyak anak. Disisi lain, alat kontrasepsi pada waktu itu masih belum di kenal di wilayah-wilayah Asia Tenggara. Namun hal tersebut tidak berjalan terlalu lama. Seiring berjalannya waktu, perkembangan ilmu pengetahuan telah membangunkan pola pikir para wanita untuk tidak menikan pada usia muda. Mereka justru terkonsentrasi pada karir dan pekerjaan, hingga menyebabkan mereka mengabaikan masalah perkawinan. Akibatnya, jumlah kelahiran lambat laun menjadi menurun.
            Jika kita meneliti tren ASEAN sejak 1960-an indikator dalam bidang sosial ekonomi yang dikatakan maju atau sukses biasanya meliputi yaitu, angka kematian menurun, urbanisasi, pendidikan, peningkatan tingkat pendapatan, dan kerja perempuan dalam kegiatan non-pertanian. Adanya tren tersebut juga diakui oleh keseluruhan masyarakat, Sehingga hal ini bisa menjadikan adanya perubahan yang cepat untuk mengarah pada penurunan jumlah kelahiran.
Di Indonesia, Thailand, dan Filipina, serta di pantai timur negara Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur, jaringan transportasi terlihat sangat memadai dalam pasca-perang tahun-tahun awal. Pengembangan secara bertahap dari semua infrastruktur sistem jalan. Akibatnya perkembangan teknologi di berbagai wilayahpun mulai merata, begitu juga dengan sistem informasi misalnya Menyebarnya TV. Dengan menyebarnya TV, masyarakat mulai langsung bisa berpartisipasi aktif dalam jalannya pemerintahan dengan cara menyampaikan inspirasinya kepada pemerintah.
Dengan adanya perkembangan tersebut maka terjadilah transisi Demografi, yaitu proses perubahan sistem kependudukan. Faktor-faktor yang diidentifikasi dalam teori transisi demografis adalah pendidikan, industrialisasi, urbanisasi dan perubahan dalam keluarga. Dampaknya adalah pikiran masyarakat terlihat menonjol yang nantinya akan menyebabkan penyebaran ide-ide baru di berbagai wilayah. Sebagai contohnya adalah munculnya alat kontrasepsi, sebagai kekuatan utama di balik penurunan jumlah kelahiran (misalnya, Cleland dan Wilson, 1986). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa perkembangan transportasi dan komunikasi merupakan sumber pengaruh terbesar bagi naik turunnya jumlah penduduk.
Keadaan penduduk di Kawasan Asia Tenggara dapat kita lihat dari beberapa aspek/segi. Misalnya ras atau suku bangsanya, jumlah penduduknya, mata pencahariannya dan persebarannya.
1.    Suku Bangsa di Kawasan Asia Tenggara
Menurut A. L Kroeber, suku bangsa yang tinggal di kawasan Asia Tenggara merupakan keturunan dari dua ras, yaitu sebagai berikut.
a.       Ras Negroid yang menempati Semenanjung Melayu dan wilayah Negara Filipina.
b.      Ras Mongoloid, yang menempati Kepulauan Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Ras Mongoloid yang ada di Indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu:
1)      Proto Melayu (Melayu Tua), yang menurunkan suku Batak, Dayak, dan Toraja.
2)      Deutro Melayu (Melayu Muda), yang menurunkan suku Bali, Jawa, dan Minangkabau.
Adapun suku-suku yang jumlahnya besar di Asia Tenggara antara lain sebagai berikut.
a)      Suku bangsa Lao Yao dan Thai di Laos dan Thailand
b)      Suku bangsa Semang dan Sakai di Malaysia.
c)      Suku bangsa Khmer di Kamboja.
d)     Suku bangsa Man, Tho, Muong ,dan Vietnam di Vietnam.
e)      Suku bangsa Jawa, Sunda, Bali, Batak, dan Dayak di Indonesia.
f)       Suku bangsa Cina, India, Melayu, dan Pakistan di Singapura.

2. Jumlah Penduduk di Kawasan Asia Tenggara
Pada tahun 2003, jumlah penduduk di kawasan Asia Tenggara adalah 544 juta jiwa. Singapura merupakan negara terpadat penduduknya di Asia Tenggara, sementara pertumbuhan penduduknya paling rendah yakni hanya 0,7% (sama dengan Thailand). Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara.

3. Mata Pencaharian Penduduk di Kawasan Asia Tenggara
Sebagian besar penduduk di kawasan Asia Tenggara bermata pencaharian sebagai petani, kecuali Singapura. Sebagian besar penduduk Singapura bekerja dalam bidang industri dan perdagangan. Industri jasa keuangan dan perdagangan merupakan sektor andalan ekonomi Singapura.
4. Persebaran Penduduk di Kawasan Asia Tenggara
Sebagian besar (63 %) penduduk di kawasan Asia Tenggara tinggal di pedesaan, kecuali Singapura. Sebagian besar (95 %) penduduk Singapura tinggal di perkotaan, karena Singapura merupakan sebuah negara kota. Karena padatnya penduduk, sebagian besar (85 %) penduduk Singapura tinggal di rumah susun (apartemen). Di Malaysia, 57 % penduduknya tinggal di perkotaan. Di Brunei Darussalam 67 % penduduknya tinggal di perkotaan. Sementara di Timor Leste, 92 % penduduknya tinggal di pedesaan.

B.        Proses Migrasi di Asi Tenggara

Wilayah Asia Tenggara didiami oleh empat golongan bangsa besar yaitu:
1.       Sino-Tibet, termasuk golongan Birma (penduduk utama Myanmar), Thai (penduduk utama Thailand) dan Cina (migrasi dari negara Cina).
  1. Austro-Asia, yang termasuk golongan ini adalah Khmer (penduduk utama Kamboja) dam bangsa Mon (suku minoritas di Birma Selatan).
  2. Austronesia, yang termasuk di sini yaitu bangsa-bangsa di Indonesia dan Melanisia yang mendiami gugusan-gugusan pulau di sebelah timur (Indonesia bagian Timur dan Filiphina bagian selatan).
  3. Papua yaitu penduduk utama Irian.
Di Asia Tenggara sering terjadi serangan-serangan dari bangsa lain di Asia Tengah. Karena serangan-serangan tersebut maka bangsa-bangsa Asia Tengara pindah ke arah selatan. Perpindahan ini terjadi secara besar-besaran (migrasi). Migrasi ini terjadi dari utara ke selatan.
Ada dua gelombang besar migrasi di Asia Tenggara yaitu:
1.      Perpindahan bangsa-bangsa Austronesia ke kepulauan daerah selatan Asia
 Perpindahan bangsa-bangsa Austronesia pada gelombang satu yaitu pada periode 1500 SM. Masuknya proto Melayu melalui dua jalur yaitu jalur Barat/selatan (dari Yunan ke Malaya, Sumatra,Jawa,Kalimantan) dan jalur Timur/Utara (dari Yunan ke Vietnam, Filiphina, Sulawesi, Irian).
Proto Melayu ini membawa kebudayaan baru yaitu Neolitikum, yang berpusat di Bacson-Hoabinh di Indocina. Hasil kebudayaannya kapak persegi dan kapak lonjong. Keturunan Proto Melayu yang masih ada adalah orang Gayo dan Alas di Sumatra, suku Toraja di Sulawesi dan suku Dayak di Kalimantan.

2.      Perpindahan bangsa Indonesia dari Indocina ke Indonesia:
Perpindahan ini terjadi pada 500 SM. Migrasi inin termasuk gelombang ke dua yaitu masuknya Deutero Melayu yang berpusat di Dongson (tongking). Jalur persebaran melalui daratan Asia, Semananjung Melayu, lalu sampai di Sumatra dan jawa. Hasil kebudayaan yang dibawa genderang, nekara. Suku keturunan Deutero Melayu adalah suku Jawa dan Bugis.

3.      Desakan-desakan bangsa-bangsa Birma, Thai, Vietnam dari Utara ke arah Selatan atau Malaya.
Migrasi ini berjalan melalui lembah-lembah sempit dari Tiongkok dan perbatasan Tibet didorong oleh adanya daya tarik delta dan lautan.
Sebab desakan bangsa-bangsa Birma, Thai dan Vietnam dari utara adalah:
a.       Orang-orang Cam terhalau dari Annam oleh orang Vietnam.
b.      Orang-orang Mon di Menam ditaklukkan oleh orang Thai.
c.       Orang-orang Mon di Irrawadi ditaklukkan oleh orang Birma.

4.      Perpindahan secara besar-besaran oleh kelompok bangsa Tionghoa (Cina) ke daerah-daerah daratan dan daerah kepulauan Asia Tenggara.
Migrasi berjalan lambat sehingga orang-orang yang telah lebih dulu tinggal menyerap bahasa dan adat istiadat para migran. Pada migrasi bangsa Tionghoa ini tidak terjadi pergantian penduduk secara besar-besaran karena tidak terjadi pemusnahan atau pemusnahan.

Faktor-faktor alam yang mempengaruhi adanya migrasi:
1. Sungai-sungai besar: sungai Irrawadi, Salween, Mekong, Menam dan sungai Merah. Sungai-sungai tersebut berfungsi sebagai :
1)    Jalan migrasi: menjadi jalan migrasi dari bangsa-bangsa dari pedalaman Asia ke daratan asia Tenggara yang yang kemudian diteruskan ke gugus-gugusan pulau yang berhubungan tidak terputus- putus dengan tanah daratan.
2)    Menyuburkan tanah: sungai-sungai tersebut menyebabkan tanah dikanan kirinya menjadi subur. Tanah yang subur cocok untuk bercocok tanam.
3)    Sumber penghidupan: dijadikan untuk perikanan dan jalur perdagangan ke daerah pantai atau sebaliknya dari pantai sampai jauh ke pedalaman.
4)    Megembangkan peradapan: bangsa-bangsa yang migrasi menggunakan sungai untuk tinggal dan mengembangkan kehidupan jasmani dan rohani sehingga tumbuh menjadi bangsa-bangsa yang berperadapan tinggi dan hidup dalam masyarakat teratur.
2. Angin muson:
Angin muson adalh angin laut sehingga Asia Tenggara pada umumnya mendapat hujan tahunan yang cukup.
Manfaat angin muson:
a.    Menyuburkan tanah (munculnya hujan menyebabkan tanah menjadi subur)
b.    Memudahkan navigasi kapal-kapal layar.
c.    Asia Tenggara menjadi tempat transit.
3. Suhu air:
Suhu air menyebabkan perahu para pedagang dapat bertahan lebih lama. Bahan baku pembuatan perahu adalah kayu yang cukup melimpah.

















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Asia tenggara adalah sebuah kawasan di benua Asia bagian tenggara. Kawasan ini mencakup indochina dan semenanjung Mayala serta kepulauan yang di sekitarnya. Asia tenggara memiliki letak yang di tinjau dari berbagai aspek baik itu dari segi astronomis, geografis, politik, ekonomis serta sosial dan keadaan alamnya.

B.     Saran
Makalah ini menjadi referensi untuk pembaca dalam penjelasan mengenai penduduk dan migrasi bangsa-bangsa di asia tenggara.

















DAFTAR PUSTAKA

Reid, Anthony. (20110. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 (jilid 1: Tanah di Bawah Angin ). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Setiawan. 2011. Tinjauan Geografis Atas Kawasan Asia Tenggara. (16 Maret 2014)
http://tarampapam.blogspot.com/2011/03/proses-migrasi-di-asi-tenggara.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar