BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Asia
Tenggara adalah sebuah kawasan di benua
Asia
bagian tenggara. Kawasan ini mencakup Indochina
dan Semenanjung Malaya
serta kepulauan di sekitarnyaAsia tenggara memiliki letak yang ditinjau dari
berbagai aspek baik itu
dari segi astronomis,geografis,politis,ekonomis
serta sosial serta keadaan alamnya.
Setiap wilayah selalu menyimpan sesuatu yang menarik dan unik dalam catatan
sejarahnya, mempelajarinya membuat kita menjadi sesorang detektif yang siap
membuka tabir misteri sehingga terkadang kita keheranan dan mengucap kagum dan
berucap kagum. Apa lagi kita sebagai manusia yang tidak bisa lepas dari ingatan
massa lalu, dengan mempelajarinya akan memberikan kesadaran dari mana kita
berasal dan proses kehidupan seperti apa yang telah nenek moyang kita lalui
pada masa silam hingga kita bisa belajar lebih bijaksana dalam menjalani
kehidupan sekarang dan akan datang. Asia tenggara adalah salah satu dari sekian
wilayah tersebut yang menyimpan keunikan sendiri.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah keadaan
penduduk di asia tenggara?
2.
Faktor apakah yang
mempengaruhi adanya migrasi?
3.
Bagaimanakah proses
migrasi di asia tenggara?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui
keadaan penduduk di asia tenggara
2.
Untuk mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi migrasi
3.
Untuk mengetahui
proses migrasi di asia tenggara
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Penduduk Asia Tenggara
Pada sekitar abad ke 18 dan
sebelum-sebelumnya , Asia tenggara merupakan daerah yang memiliki penduduk
paling jarang di kawasan ASEAN. Namun pada abad ke 19 dan 20 mengalami perubahan
yang sangat signifikan. Penduduk menjadi bertambah lebih dari 100%. Perubahan
tersebut tentu memiliki berbagai unsur penyebab. Kawasan Asia Tenggara mulanya
adalah berupa rawa-rawa dan hutan. Namun saat ini hutan dan rawa-rawa tersebut
telah terlihat mengenaskan karena telah dirusak oleh tangan-tangan jahil
manusia.
Sekitar dua Abad yang lalu jumlah
penduduk di Asia Tenggara sangat jarang, sehingga banyak adanya anjuran-anjuran
dari berbagai pihak untuk meningkatkan angka kelahiran. Minimnya informasi dan
minimnya teknologi adalah faktor yang paling utama. Sehingga pada waktu itu
dena dirasa sudah menemukan kesejahteraanya di daerah pedesaan yang baru di
tinggali mereka. Namun hal ini berbeda dengan dua negara ini, yaitu Filipina
danMalaysia. Di dua negara tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk yang tinggal
di daerah perkotaan sangatlah banyak, bahkan mencapai 50%. Namun di luar itu,
penduduk pedesaan juga telah mengalami peningkatan yang sama, sehingga
kedudukan dari kemajuannya seimbang. Adanya infrastruktur yang memadai
merupakan faktor utama.
Faktor utama yang mempengaruhi
pertumbuhan penduduk adalah besar kecilnya angka kematian dan tingkat
kesuburan. Setelah Perang Dunia II berakhir terlihat bahwa angka kematian
semakin menurun. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuanpun juga semakin
terlihat dengan dibuktikannya ada penemuan antibiotik pada tahun 1940dan
1950-an. Di kawasan-kawasan Asia Tenggara terlihat adanya penurunan kematian
bayi yang signifikan yaitu di kawasan Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand,
Myanmar, Vietnam, Laos dan Kamboja.
Pada tahun 1970-an tercatat bahwa
angka kelahiran mengalami pelonjakan yang cukup drastis. Masyarakat di seluruh
kawasan Asia Tenggara telah mengalami perubahan berfikir untuk lebih menekankan
adanya banyaknya jumlah kelahiran.jumlah ini bahkan tercatat lebih tinggi dari
Negara-negara Eropa. Negara-negara tersebut antara lain Indonesia, Malaysia,
filipina, Muangthai. Dengan adanya kelahiran yang sangat drastis yang meningkat
hingga mencapai 28,9% tersebut berdampak buruk bagi kesehatan bayi di
masyarakat. Kurangnya asupan gizi bagi bayi adalah faktor utama, sehingga
dengan adanya permasalahan inilah mulai timbul adanya transmigrasi.
Peningkatan angka kelahiran tersebut
juga di pengaruhi adanya faktor pernikahan usia muda. Usia muda para wanita
tersebut merupakan masa-masa kesuburan bagi seseorang untuk melahirkan banyak
anak. Disisi lain, alat kontrasepsi pada waktu itu masih belum di kenal di
wilayah-wilayah Asia Tenggara. Namun hal tersebut tidak berjalan terlalu lama.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan ilmu pengetahuan telah membangunkan
pola pikir para wanita untuk tidak menikan pada usia muda. Mereka justru
terkonsentrasi pada karir dan pekerjaan, hingga menyebabkan mereka mengabaikan
masalah perkawinan. Akibatnya, jumlah kelahiran lambat laun menjadi menurun.
Jika
kita meneliti tren ASEAN sejak 1960-an indikator dalam bidang sosial ekonomi
yang dikatakan maju atau sukses biasanya meliputi yaitu, angka kematian
menurun, urbanisasi, pendidikan, peningkatan tingkat pendapatan, dan kerja
perempuan dalam kegiatan non-pertanian. Adanya tren tersebut juga diakui oleh
keseluruhan masyarakat, Sehingga hal ini bisa menjadikan adanya perubahan yang
cepat untuk mengarah pada penurunan jumlah kelahiran.
Di Indonesia, Thailand, dan
Filipina, serta di pantai timur negara Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur,
jaringan transportasi terlihat sangat memadai dalam pasca-perang tahun-tahun
awal. Pengembangan secara bertahap dari semua infrastruktur sistem jalan.
Akibatnya perkembangan teknologi di berbagai wilayahpun mulai merata, begitu
juga dengan sistem informasi misalnya Menyebarnya TV. Dengan menyebarnya TV,
masyarakat mulai langsung bisa berpartisipasi aktif dalam jalannya pemerintahan
dengan cara menyampaikan inspirasinya kepada pemerintah.
Dengan adanya perkembangan tersebut
maka terjadilah transisi Demografi, yaitu proses perubahan sistem kependudukan.
Faktor-faktor yang diidentifikasi dalam teori transisi demografis adalah
pendidikan, industrialisasi, urbanisasi dan perubahan dalam keluarga. Dampaknya
adalah pikiran masyarakat terlihat menonjol yang nantinya akan menyebabkan
penyebaran ide-ide baru di berbagai wilayah. Sebagai contohnya adalah munculnya
alat kontrasepsi, sebagai kekuatan utama di balik penurunan jumlah kelahiran
(misalnya, Cleland dan Wilson, 1986). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa
perkembangan transportasi dan komunikasi merupakan sumber pengaruh terbesar bagi
naik turunnya jumlah penduduk.
Keadaan
penduduk di Kawasan Asia Tenggara dapat kita lihat dari beberapa aspek/segi.
Misalnya ras atau suku bangsanya, jumlah penduduknya, mata pencahariannya dan
persebarannya.
1.
Suku Bangsa di Kawasan Asia Tenggara
Menurut A. L Kroeber, suku bangsa yang tinggal
di kawasan Asia Tenggara merupakan keturunan dari dua ras, yaitu sebagai
berikut.
a.
Ras Negroid yang menempati
Semenanjung Melayu dan wilayah Negara Filipina.
b.
Ras Mongoloid, yang menempati
Kepulauan Indonesia, Malaysia, dan Filipina.
Ras Mongoloid yang ada di Indonesia dibedakan menjadi
dua, yaitu:
1)
Proto Melayu (Melayu Tua), yang
menurunkan suku Batak, Dayak, dan Toraja.
2)
Deutro Melayu (Melayu Muda), yang
menurunkan suku Bali, Jawa, dan Minangkabau.
Adapun suku-suku yang jumlahnya besar di Asia Tenggara
antara lain sebagai berikut.
a)
Suku bangsa Lao Yao dan Thai di Laos
dan Thailand
b)
Suku bangsa Semang dan Sakai di
Malaysia.
c)
Suku bangsa Khmer di Kamboja.
d)
Suku bangsa Man, Tho, Muong ,dan
Vietnam di Vietnam.
e)
Suku bangsa Jawa, Sunda, Bali,
Batak, dan Dayak di Indonesia.
f)
Suku bangsa Cina, India, Melayu, dan
Pakistan di Singapura.
Pada tahun 2003, jumlah penduduk di
kawasan Asia Tenggara adalah 544 juta jiwa. Singapura merupakan negara terpadat penduduknya di
Asia Tenggara, sementara pertumbuhan penduduknya paling rendah yakni hanya 0,7%
(sama dengan Thailand). Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk
terbesar di Asia Tenggara.
3. Mata Pencaharian Penduduk di
Kawasan Asia Tenggara
Sebagian besar penduduk di kawasan
Asia Tenggara bermata pencaharian sebagai petani, kecuali Singapura. Sebagian
besar penduduk Singapura bekerja dalam bidang industri dan perdagangan.
Industri jasa keuangan dan perdagangan merupakan sektor andalan ekonomi Singapura.
Sebagian besar (63 %) penduduk di
kawasan Asia Tenggara tinggal di pedesaan,
kecuali Singapura. Sebagian besar (95 %) penduduk Singapura tinggal di perkotaan, karena Singapura merupakan sebuah negara
kota. Karena padatnya penduduk,
sebagian besar (85 %) penduduk Singapura tinggal di rumah susun (apartemen). Di Malaysia, 57 % penduduknya tinggal di
perkotaan. Di Brunei Darussalam 67 % penduduknya tinggal di perkotaan.
Sementara di Timor Leste, 92 % penduduknya tinggal di pedesaan.
B. Proses Migrasi di Asi Tenggara
Wilayah Asia
Tenggara didiami oleh empat golongan bangsa besar yaitu:
1.
Sino-Tibet,
termasuk golongan Birma (penduduk utama Myanmar), Thai (penduduk utama
Thailand) dan Cina (migrasi dari negara Cina).
- Austro-Asia, yang termasuk golongan ini adalah Khmer (penduduk utama Kamboja) dam bangsa Mon (suku minoritas di Birma Selatan).
- Austronesia, yang termasuk di sini yaitu bangsa-bangsa di Indonesia dan Melanisia yang mendiami gugusan-gugusan pulau di sebelah timur (Indonesia bagian Timur dan Filiphina bagian selatan).
- Papua yaitu penduduk utama Irian.
Di
Asia Tenggara sering terjadi serangan-serangan dari bangsa lain di Asia Tengah.
Karena serangan-serangan tersebut maka bangsa-bangsa Asia Tengara pindah ke
arah selatan. Perpindahan ini terjadi secara besar-besaran (migrasi). Migrasi
ini terjadi dari utara ke selatan.
Ada dua gelombang besar migrasi di Asia Tenggara yaitu:
1. Perpindahan bangsa-bangsa Austronesia ke kepulauan daerah
selatan Asia
Perpindahan bangsa-bangsa Austronesia pada
gelombang satu yaitu pada periode 1500 SM. Masuknya proto Melayu melalui dua
jalur yaitu jalur Barat/selatan (dari Yunan ke Malaya, Sumatra,Jawa,Kalimantan)
dan jalur Timur/Utara (dari Yunan ke Vietnam, Filiphina, Sulawesi, Irian).
Proto Melayu ini
membawa kebudayaan baru yaitu Neolitikum, yang berpusat di Bacson-Hoabinh di
Indocina. Hasil kebudayaannya kapak persegi dan kapak lonjong. Keturunan Proto
Melayu yang masih ada adalah orang Gayo dan Alas di Sumatra, suku Toraja di
Sulawesi dan suku Dayak di Kalimantan.
2. Perpindahan bangsa Indonesia dari Indocina ke Indonesia:
Perpindahan
ini terjadi pada 500 SM. Migrasi inin termasuk gelombang ke dua yaitu masuknya
Deutero Melayu yang berpusat di Dongson (tongking). Jalur persebaran melalui
daratan Asia, Semananjung Melayu, lalu sampai di Sumatra dan jawa. Hasil
kebudayaan yang dibawa genderang, nekara. Suku keturunan Deutero Melayu adalah
suku Jawa dan Bugis.
3. Desakan-desakan bangsa-bangsa Birma, Thai, Vietnam dari
Utara ke arah Selatan atau Malaya.
Migrasi ini
berjalan melalui lembah-lembah sempit dari Tiongkok dan perbatasan Tibet
didorong oleh adanya daya tarik delta dan lautan.
Sebab desakan
bangsa-bangsa Birma, Thai dan Vietnam dari utara adalah:
a. Orang-orang Cam terhalau dari Annam oleh orang Vietnam.
b. Orang-orang Mon di Menam ditaklukkan oleh orang Thai.
c. Orang-orang Mon di Irrawadi ditaklukkan oleh orang Birma.
4. Perpindahan secara besar-besaran oleh kelompok bangsa
Tionghoa (Cina) ke daerah-daerah daratan dan daerah kepulauan Asia Tenggara.
Migrasi
berjalan lambat sehingga orang-orang yang telah lebih dulu tinggal menyerap
bahasa dan adat istiadat para migran. Pada migrasi bangsa Tionghoa ini tidak
terjadi pergantian penduduk secara besar-besaran karena tidak terjadi
pemusnahan atau pemusnahan.
Faktor-faktor alam yang mempengaruhi adanya migrasi:
1. Sungai-sungai besar: sungai Irrawadi, Salween, Mekong,
Menam dan sungai Merah. Sungai-sungai tersebut berfungsi sebagai :
1)
Jalan migrasi:
menjadi jalan migrasi dari bangsa-bangsa dari pedalaman Asia ke daratan asia
Tenggara yang yang kemudian diteruskan ke gugus-gugusan pulau yang berhubungan
tidak terputus- putus dengan tanah daratan.
2)
Menyuburkan tanah:
sungai-sungai tersebut menyebabkan tanah dikanan kirinya menjadi subur. Tanah
yang subur cocok untuk bercocok tanam.
3)
Sumber penghidupan:
dijadikan untuk perikanan dan jalur perdagangan ke daerah pantai atau
sebaliknya dari pantai sampai jauh ke pedalaman.
4)
Megembangkan
peradapan: bangsa-bangsa yang migrasi menggunakan sungai untuk tinggal dan
mengembangkan kehidupan jasmani dan rohani sehingga tumbuh menjadi
bangsa-bangsa yang berperadapan tinggi dan hidup dalam masyarakat teratur.
2. Angin muson:
Angin muson adalh angin laut sehingga Asia Tenggara pada
umumnya mendapat hujan tahunan yang cukup.
Manfaat angin
muson:
a. Menyuburkan tanah (munculnya hujan menyebabkan tanah
menjadi subur)
b. Memudahkan navigasi kapal-kapal layar.
c. Asia Tenggara menjadi tempat transit.
3. Suhu air:
Suhu air menyebabkan perahu para pedagang dapat bertahan
lebih lama. Bahan baku pembuatan perahu adalah kayu yang cukup melimpah.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Asia tenggara adalah sebuah kawasan di benua Asia bagian
tenggara. Kawasan ini mencakup indochina dan semenanjung Mayala serta kepulauan
yang di sekitarnya. Asia tenggara memiliki letak yang di tinjau dari berbagai
aspek baik itu dari segi astronomis, geografis, politik, ekonomis serta sosial
dan keadaan alamnya.
B.
Saran
Makalah
ini menjadi referensi untuk pembaca dalam penjelasan mengenai penduduk dan migrasi bangsa-bangsa di asia tenggara.
DAFTAR PUSTAKA
Reid, Anthony. (20110. Asia
Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 (jilid 1: Tanah di Bawah Angin ). Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Setiawan. 2011. Tinjauan
Geografis Atas Kawasan Asia Tenggara. (16 Maret 2014)
http://tarampapam.blogspot.com/2011/03/proses-migrasi-di-asi-tenggara.html